Good Indonesian Food | Mangut Lele Mbah Marto
Good Indonesian Food - Preserver and Promote Indonesia Culinary
good indonesian food, makanan, khas daerah, jakarta, bogor, tangerang, bekasi, banteng, bali, lombok, bandung, enak, lezat, nikmat, murah, meriah, gurih, kenyang, culinary, kuliner, warung, soto, nasi, campur, serabi, surabi, makanan, restoran, restaurant, sajian, sedap, saji, sedap, kumpulan resep masakan, food, travel, jajan, makan, indonesian culinary, indonesian food, indonesia travelling, wisata surabaya, popular, wisata bali, jabodetabek, wisata lombok, makanan indonesia
23712
single,single-post,postid-23712,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-1.7,wpb-js-composer js-comp-ver-4.3.4,vc_responsive
yogyakarta-heritage-mangut lele mbah marto1
yogyakarta-heritage-mangut lele mbah marto2

Mangut Lele Mbah Marto

Ketika mencicipi mangut lele andalan Mbah Marto, saya merasakan rasa pedas yang menyengat dan sedikit berasap mendarat di lidah. Kesatuan rasa yang menggugah selera untuk penggemar makanan pedas seperti saya.

Akan sedikit sulit menemukan Mangut Lele Mbah Marto yang legendaris. Tempat makan ini sebenarnya merupakan tempat tinggal Mbah Marto yang terletak di kampung Bantul. Tanpa bantuan orang baik yang saya temui saat mencari tempat ini—yang menandai lokasinya di Google Maps untuk saya, mungkin saya tidak akan berhasil menemukannya.
Saya sampai jam 9 pagi. Rumah ini masih sepi. Saya mengetuk pintunya dan disapa oleh Pak Pariman, anak keempat Mbah Marto. Dia mengatakan kalau mereka sedang menyiapkan makanannya dan meminta saya untuk menunggu di teras. Tak lama, dia mengajak saya untuk masuk ke dapur. Di sana, Mbah Marto yang berusia 92 tahun sedang mengupas sekeranjang bawang merah dengan tangannya yang keriput dan ringkih. Kemudian, Pak Pariman meminta saya untuk mengambil piring dan menyendok hidangan yang saya inginkan.
Saya memilih mangut lele dan opor ayam kampung. Mereka juga menghidangkan hidangan ikonis gudeg, tetapi saya sudah tertarik dengan cabai merah yang melapisi mangut lele.
Saya kembali ke teras untuk menikmati makanan, ditemani kicauan burung. Ketika mencicipi mangut lele andalan Mbah Marto, saya merasakan rasa pedas yang menyengat dan sedikit berasap mendarat di lidah. Kesatuan rasa yang menggugah selera untuk penggemar makanan pedas seperti saya.Opor ayam kampungnya terasa sama lezatnya. Dagingnya sedikit keras karena mereka menggunakan ayam kampung—tetapi santan, bawang, cabai, dan lengkuas memberikan rasa yang cukup nikmat untuk menyeimbangkannya.
Setelah saya menghabiskan makanan saya, Pak Pariman meminta saya untuk menilai rasa makanannya. Saya membalasnya dengan senyuman selebar lautan dan dua jempol. Menurutnya, Mbah Marjo memulai bisnisnya sekitar 67 tahun lalu. Saat itu, dia belum menikah dan akan berjalan kaki menuju pusat Yogyakarta untuk berjualan mangut lele. Pada 1991—lanjut usia, menikah, dan seorang ibu—dia tidak punya kekuatan untuk membawa keranjang bambu yang memuat masakannya. Jadi, dia memutuskan untuk menjualnya dari rumah. Di dalam dapur, di mana dinding bata yang sudah berubah menjadi hitam karena kompor kayu, dia masih menyiapkan makanan untuk pelanggan setianya setiap hari.
Pak Pariman telah membantu ibunya sejak kecil. Kadang-kadang, dia merasa bahagia ketika melihat artis makan di tempatnya. “Melihat mereka memilih makan di sini daripada di restoran layak lainnya, terasa menakjubkan,” ujarnya. Jika Anda tertarik untuk mencicipi hidangan khas Jawa, hidangan itu haruslah Mangut Lele Mbah Marto.

Dusun Nengahan, Padukuhan Ngiring-iring
Panggungharjo, Sewon, Bantul,Yogyakarta
Telp: 0821 3737 3477
Buka setiap hari, pukul 09.30–16.00 WIB
Rp20.000/US$1,50 per orang

Tags:
No Comments

Post a Comment