Good Indonesian Food | Warung Nasi Belayu “Sambel Bejek”
Good Indonesian Food - Preserver and Promote Indonesia Culinary
good indonesian food, makanan, khas daerah, jakarta, bogor, tangerang, bekasi, banteng, bali, lombok, bandung, enak, lezat, nikmat, murah, meriah, gurih, kenyang, culinary, kuliner, warung, soto, nasi, campur, serabi, surabi, makanan, restoran, restaurant, sajian, sedap, saji, sedap, kumpulan resep masakan, food, travel, jajan, makan, indonesian culinary, indonesian food, indonesia travelling, wisata surabaya, popular, wisata bali, jabodetabek, wisata lombok, makanan indonesia
23476
single,single-post,postid-23476,single-format-standard,ajax_fade,page_not_loaded,,select-theme-ver-1.7,wpb-js-composer js-comp-ver-4.3.4,vc_responsive
bali-heritage-warung nasi sambel bejek pak wiwin1
bali-heritage-warung nasi sambel bejek pak wiwin2
bali-heritage-warung nasi sambel bejek pak wiwin3

Warung Nasi Belayu “Sambel Bejek”

“Di balik kesederhanaannya, terdapat varian rasa yang akan menghibur seseorang yang sedang tidak mempunyai selera makan sekalipun.”

Terdapat di pinggir jalan Jurusan Marga–Denpasar, Warung Nasi Belayu “Sambel Bejek” terlihat seperti tempat peristirahatan mungil untuk pengemudi truk antarkota. Makanan yang ditawarkan di sini lebih dari perkiraan, jika dilihat dari tampilannya. Warung ini dibuka pertama kali pada 1978 dan berhasil menempatkan hidangan khas Kampung Belayu di peta kuliner Bali. Men Kasih, penggagas tempat makan ini, dikenal karena menciptakan sambel bejek yang menjadi makanan khas kampung ini.

Saya menghabiskan waktu hampir dua jam untuk menuju Kampung Belayu dari Denpasar. Saya sampai jam setengah 9 pagi, disambut pemandangan toko yang kosong. Tidak ada perabotan mewah; hanya ada meja dan kursi kayu, juga bagian lesehan. Pan Wiwin, anak laki-laki Men Kasih, baru saja selesai meracik bahan makanan untuk hari itu. Saya langsung memesan seporsi Nasi Sambel Bejek dan mengambil tempat duduk yang menghadap sawah yang terletak tepat di depan warung.

Secara kilat, pesanan saya sudah tersaji di hadapan saya. Hidangan ini terdiri atas tiga bagian: sepiring nasi dengan tum—hati ayam kukus dicampur dengan bumbu khas Bali, semangkuk soto ayam, dan sepiring kecil sambal bejek. Hati ayam yang berwarna gelap tampak tidak menggiurkan. Jadi, saya memulai santapan dari soto ayam. Menu ini berisi daging ayam suwir, sawi, dan tauge; rasanya cukup pedas, yang tentu menjadi ekspektasi dari sebuah hidangan khas Bali. Merasa puas, saya melanjutkan santapan saya menuju sambel bejek. Merupakan campuran ayam suwir, cabai, bawang merah, garam, minyak kelapa, jeruk, dan potongan kecombrang, tampilannya sekilas biasa saja. Di balik kesederhanaannya, terdapat varian rasa yang akan menghibur seseorang yang sedang tidak mempunyai selera makan sekalipun. Rasa kecombrangnya terasa mendominasi dengan aroma jeruk dan rasa pedas yang tajam, bercampur tanpa cela dengan bahan lainnya.

Terkesan dengan apa yang sudah saya lahap, saya memutuskan untuk mencicipi tumnya. Rasanya sangat berlemak dan meninggalkan sensasi berminyak di langit-langit mulut. Untungnya, terobati oleh sambal bejek. Saya tidak terlalu mampu mendeskripsikan seberapa enaknya menu Nasi Sambel Bejek. Yang bisa saya lakukan adalah menyarankan Anda untuk pergi ke tempat makan ini dan mencobanya sendiri. Sebaiknya hindari datang pada saat makan siang karena warung ini biasanya cukup penuh.

By Jessicha Valentina

Jalan Jurusan Marga–Denpasar
Br. Gunung Siku, Belayu, Marga
Telp: 081338456919 Buka setiap hari, pukul 09.00–13.00 WITA
Rp15.000/US$1,05 per porsi

Tags:
No Comments

Post a Comment